Jumat, 10 Februari 2012

Wali 7 Bali

Pulau Bali yang identik dengan sebutan Pulau Dewata ini yang menyimpan keindahan alam berupa pegunungan, pantai, dan danau dengan pemandangan yang indah, sebut saja pantai Kuta, pantai Sanur, Nusa Dua atau Tanah Lot yang sangat terkenal. Atau mungkin pasar seni Sukawati yang menawarkan oleh-oleh khas Bali dan tempat-tempat yang indah lainnya. Tapi taukah anda jika Bali juga menyimpan sajian wisata lain? Wisata religi.

Bagi sebagian orang ketika mendengar wisata religi di Bali pasti akan diasosiasikan dengan kunjungan ke Pura-Pura yang ada disana, misalnya ke Pura Besakih, Pura Tanah Lot, atau Pura Luhur Uluwatu, anggapan tersebut tidak salah karena memang Bali adalah pulau di Indonesia yang mayoritas warganya beragama Hindhu dan pengaruh budaya Hindhu sangat kental terasa disana. Tapi wisata religi yang dimaksudkan disini bukan wisata mengunjungi Pura-Pura Hindhu, melainkan ziarah ke makam muslim, makam wali-wali yang berjasa menyebarkan agama Islam di Pulau Dewata, Bali.

Agama Islam mungkin menjadi agama kedua di Bali, tapi tetap tak dapat dipungkiri bahwa agama Islam tetap masuk dan berkembang di pulau yang mayoritas beragama Hindhu ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya kampung-kampung muslim dan ditemukannya makam muslim dan makam wali-wali yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di Bali. Jadi tak hanya pulau Jawa yang memiliki wisata religi dengan nuansa sejarah penyebaran agama Islam, yaitu Wali Songo, tapi Bali juga memiliki wisata religi tersebut dengan sebutan Wali 7 Bali.

Berikut ini adalah nama-nama dan sedikit penjelasan tentang Wali 7 Bali :

1.    Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih.
Makam Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih ini terletak di Jl. Semangka Loloan Barat Kec. Negara, Kab. Jembrana, Bali.

Gang masuk ke makam

Makam Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih

Meninggal pada tanggal 27 Februari 1998 M di Loloan Barat Jembrana dalam usia 100 tahun lebih. Chabib Ali Bafaqih pendiri pondok Syamsul Huda semasa hidupnya dalam menjalankan syiar Islam telah menunjukkan menjadi hamba Allah pilihan, banyak yang menyaksikan waktu beliau mengisi di suatu majelis, tetapi ada orang yang melihat beliau mengisi di majelis di tempat lain di hari yang sama.

2.    Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid.
Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid terletak di Kusumba, Kec. Dawan, Kab. Klungkung.


Makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid


Waktu kerajaan Klungkung pada masa pemerintahan Raja Dhalem/Dewa Agung Jambe, pada saat itu kerajaan memerlukan guru bahasa Melayu maka dipilihlah Chabib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid sebagai guru bahasanya. Dengan sabar dan tekun amanah dilaksanakan, walau berbagai macam ujian tetap diterima dan raja pun makin simpatik karena sang guru sangat disiplin juga lemah lembut tutur katanya.

Pada suatu hari waktu pulang mengajar sang guru tidak tahu kalau berpapasan dengan salah satu putra raja dan sang guru tidak turun dari kudanya, hal tersebut membuat putra raja marah. Masalah itu sampai juga di telinga raja. Maka sang guru diperintah melalui jalur tepi pantai. Hari berganti minggu berganti bulan banyak orang melihat ada orang berkuda berjalan di tepi pantai/laut, ia dikira saudagar kaya raya. Suatu hari saat sang guru hendak pulang ke Kusamba, di tengah perjalanan dihadang beberapa orang, karena perlawanan yang tidak seimbang banyaknya, maka sang guru pun tewas.
Keanehan yang terjadi, setelah dimakamkan, malam harinya Chabib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid atau sang guru mengeluarkan bola-bola api terbang mencari para pembunuhnya dan memang benar semua pembunuh tewas tak tersisa.

Patung replika Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Hamid

 3.    Habib Ali bin Zainal Abidin Al Idrus.
Makamnya di Desa Bungaya Kangin Kec. Bebandem, Kab. Klungkung. Dikenal dengan “Makam Keramat Kembar.”

\
 



Chabib Ali bin Zainal Abidin Al Idrus meninggal tanggal 9 Ramadhan 1493 H atau tanggal 19 Juni 1982 M. Di sebelah makam tersebut ada makam kuno menurut cerita adalah makam Syeikh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi.

4.    Syeikh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi.
Makamnya di Desa Bungaya Kangin Kec. Bebandem, Kab. Karangsem. Dikenal dengan “Makam Keramat Kembar.”
Peziarah yg ingin berziarah

Makam Syeikh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi


Pada tahun 1963 M waktu Gunung Agung meletus yang mana mengeluarkan lahar panas menyemburkan batu-batu besar dan kecil serta abu ke atas menjulang tinggi di angkasa memporak-porandakan Bali hingga sampai ke wilayah Jawa Timur. Namun anehnya kuno milik Syeikh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi tetap tak berubah walaupun hanya berasal dari tumpukan batu merah yang tidak diperkuat dengan adanya semen bahkan tidak ada sebutir pasir yang menyentuh makam tersebut.

5. Pangeran Mas Sepuh Raden Amangkuningrat (Syeikh Achmad Chamdiun Choirussaleh)
Makamnya di Desa Munggu Kec. Mengwi, Kab. Badung. Dikenal dengan “Makam Keramat Pantai Seseh.”






Raden Amangkurat atau Raden Mas Sepuh/Pangeran Mas Sepuh dengan gelar Syeikh Achmad Chamdiun Choirussaleh putra Raja Mengwi ke VII Cokorda I, ibunya dari Blambangan wilayah Banyuwangi, Jawa Timur. Pangeran Mas Sepuh masa kecil dalam asuhan ibunya dalam lingkungan Islam. Setelah dewasa ingin berbakti pada ayahnya tapi untuk menjalankan niatnya banyak ujian tapi tetap diterima dengan sabar hati dan tidak mudah dendam selalu memaafkan pada orang-orang yang menghambat perjalanannya.

6.    Syeikh Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi.
Makamnya di atas bukit Bedugul Kab. Tabanan. Dikenal dengan “Makam Keramat Bedugul.”

Lokasi makam yang berada di atas bukit yang tinggi dan berada di tengah cagar alam milik Perhutani Kabupaten Tabanan menyebabkan peziarah harus benar-benar kuat dan mampu untuk bisa sampai ke sana. Biasanya peziarah yang ingin mengirim doa akan diarahkan ke sebuah masjid yang juga berada di atas bukit.

Dari halaman masjid, kita bisa melihat Danau Beratan yang sangat indah.
Ada yang ingat Danau Beratan..?? Coba lihat di uang 50 ribuan yang sisi belakang.. :D




Gambar yg ini 'hampir' mirip kayak yg di balik uang 50 ribu kan..?? :p

Mengenai kisah tentang Syeikh Habib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi belum ada yang berani menuliskan kisahnya karena masih banyak versi.

7.    Syeikh Abdul Qodir Muhammad ( The Kwan Lie )
Makamnya di Banjar Dinas Labuhan Aji, Desa Temukus Kec. Banjar, Kab. Buleleng. Dikenal dengan “Makam Keramat Karang Rupit.”






Dari dataran Tiongkok/Cina mengembara ke Singapura di Bukit Temasek (sekarang menjadi Stadion Nasional Singapura) bertemu dengan Zaenal Abidin dan Habib Husin. Selang beberapa waktu mengembara ke Palembang setelah bermukim beberapa tahun mengembara ke Jawa mengembara ilmu di Sunan Gunung Jati Cirebon Jawa Barat. Diperkirakan sudah cukup mendalami ilmunya, The Kwan Lie diantar Sunan Gunung Jati ke Pulau Bali untuk menyebarkan agama Islam, walaupun banyak cobaan dari segala penjuru namun dengan ikhlas, sabar, tawakal, ngalah, loman, Allah SWT memberikan yang terbaik dan mendapat gelar Syeikh Abdul Qodir Muhammad.


Masih ada satu lagi makam yang bisa dikunjungi yaitu makam Keramat Pemecutan Dewi Khodijah

Tampak samping luar

Tampak samping dalam

Tampak depan

Sebatang pohon yang tumbuh di tengah-tengah makam, konon merupakan rambut Dewi Khodijah yang tumbuh. Wallahu'alam.

Keramat Pemecutan yang berada di jalan Batukaru Denpasar adalah Makam Dewi Khodijah ini nama setelah berikrar masuk Agama Islam. Nama aslinya Ratu Ayu Anak Agung Rai adiknya Raja Pamecutan Cokorda III yang bergelar Bathara Sakti th 1653 M.
 

Catatan :
Kisah para wali saya ambil dari sumber yang ditulis oleh Hari Purwanto, seorang pengelana dari Blitar, Jawa Timur.
Foto/dokumentasi adalah milik pribadi. Diambil saat Ziarah Wali 7 Bali 23-27 September 2011.

12 komentar:

  1. Info yang menarik.Terima kasih. Jazakallah khair. Mohon sebelum dipublikasikan tulisan perlu diedit, banyak kata yang kurang, sehingga akan membingungkan seperti ini ...... dan raja pun makin simpatik karena sang guru sangat disiplin juga lemah tutur katanya. lemah lembut yg dimaksud barangkali. Afwan. Tks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih..
      semoga bermanfaat bagi semua..

      terima kasih juga atas koreksinya..
      nanti akan segera diedit..

      Hapus
  2. alhamdulillah.......... kemarin saya ziarah ke makam wali 7 di pulau bali.......

    BalasHapus
  3. aku pengen nanya nih mbak. . . . sebenernya arti kata habib dan syeikh ntu apa sih h h hh . . .. . ???

    BalasHapus
  4. Jazakallah ahsanal jaza' atas infonya, teramat bermanfaat akhi.:-)

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  6. Wah ty infonya, Maaf Numpang share http://tugascumi.blogspot.com/2013/02/wali-songo.html Ty..

    BalasHapus
  7. Infonya sangat bermanfaat.....tks

    BalasHapus
  8. Sayang ada bbrpa situs yg juru kuncinya bragama hindu dan bgnunan'y pun berkarakter ke hinduan shingga umat muslim yg mau brziarah hrs brpkir 2x. thanks

    BalasHapus
  9. Begitulah Bali, kerukunan hidup, dan penghargaan terhadap tokoh, membuat peninggalan sejarah ini bisa bertahan. Selain berwisata biasa, sekarang Bali sudah dibanjiri peziarah dari berbagai wilayah di Jawa dan daerah lainnya.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...